Tokoh Pahlawan Kemerdekaan Dari Banten


Pada zaman kemerdekaan ada orang sunda yang menjadi tokoh pahlawan kemerdekaan beliau bernama Syafruddin Prawiranegara, sayangnya nama beliau tidak begitu di kenal oleh kalangan masyarakat Banten sendiri, khusunya para kaum millenial.

Tokoh Pahlawan Kemerdekaan Dari Banten


Berikut ini adalah biografi dan sejarah dari Syafruddin Prawiranegara.


1. Biografi Syafruddin Prawiranegara


Syafruddin Prawiranegara lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Pandeglang tepatnya di kec. Saketi, Pandeglang, Banten. ia merupakan orang asli Sunda dan menjadi orang Banten pertama yang pernah menduduki kursi petinggi PDRI( Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) atas mandat langsung dari ir. Soekarno.

Sewaktu kecil syafrudin akrab di panggil Udin, ayahnya merupakan orang asli sunda, sedangkan ibunya memiliki darah campuran banten dan minangkabau, karena kake dari ibunya bernama Sutan Alam Intan, beliau mempunyai darah keturunan dari kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat dan di buang ke Banten pada saat Perang Padri.

Ayah Syafruddin merupakan seorang jaksa di pemerintahan kolonial Belanda, namun karena ayah Syafruddin begitu dekat dengan rakyat, akhirnya ayah syafrudin di buang oleh Belanda ke Jawa Timur.

2. Riwayat Pendidikan Syafruddin


Syafruddin Prawiranegara menempuh jalur pendidikan dari sd hingga menjadi Megister Hukum, berikut adalah riwayat pendidikan beliau:

1. Menempuh pendidikan ELS( Europeesche Lagere School) atau Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda.
2. Melanjutkan pendidikan ke MULO( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau Sekolah Menengah Pertama di Madiun pada tahun 1928.
3. Melanjutkan pendidikan ke AMS ( Algemeene Middelbare School) atau Sekolah Menengah Umum(SMU) di bandung pada tahun 1931.
4. Melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta atau sekarang menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pada tahun 1934, dan berhasil mendapatkan gelar Megister Hukum.

3. Riwayat pekerjaan Syafruddin

Sebelum Kemerdekaan Syafruddin pernah bekerja dibeberapa tempat, di antaranya:

Sebelum Kemerdekaan

1. Pernah menjadi pegawai siaran radio swasta pada tahun 1939-1940
2. Menjadi petugas Departemen Keuangan Belanda pada tahun 1940-1942
3. Serta pernah menjadi Departemen Keuangan Jepang.

Setelah Kemerdekaan:

1. Menjadi anggota Badan Pekerja KNIP pada tahun 1945 setelah kemerdekaan, atau badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan MPR
2. Wakil mentri keuangan pada tahun 1946
3. Menjadi pimpinan PDRI pada tahun 1947
4. Wakil perdana mentri pada tahun 1949
5. Mentri keuangan  pada tahun 1949-1950
6. Menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia pertama pada tahun 1951

.

4. Kisah Syafruddin Prawiranegara menjadi petinggi PDRI


Pada tahun 1948 ketika ir. Soekarno dan Mohammad Hatta di tangkap oleh belanda pada Agresi Militer II lalu di buang ke Pulau Bangka, sebelum hal itu terjadi ir. Soekarno dan Mohammad Hatta telah memprediksikan bahwa mereka berdua akan di tangkap dan di buang oleh belanda, maka untuk mengantisipasikan hal itu terjadi mereka berdua memerintahkan kepada Syafruddin Prawiranegara untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat RI(PDRI) agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan ketika Soekarno dan Hatta tertangkap oleh Belanda. Perintah itu di buat sebelum pusat pemerintahan Indonesia di pindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta yaitu pada tahun 1947.
Jabatan ketua PDRI sederajat atau setingkat dengan jabatan Presiden.

Kenapa harus Syafruddin Prawiranegara yang di tunjuk untuk menjadi petinggi PDRI pada saat itu?.

Jawaban sederhanya selain Syafruddin ahli dalam hukum tatanegara dan cara mengelola negara, alasan kedua Soekarno dan Hatta menunjuk Syafruddin adalah karna beliau adalah orang Banten, yang mana orang Banten terkenal dengan ilmu kebal dan kanuraganya.

Jadi ketika belanda mendatangi istana negara di Jakarta untuk menangkap Soekarno dan Hatta maka yang akan di jumpai oleh belanda adalah Syafruddin orang asli Sunda dari Banten.
Dalam usaha Pemerintah Darurat akhirnya Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia dalam perjanjian Roem Royen, dalam perjanjian tersebut, pada 13 juli 1949 akhirnya Belanda membebaskan Soekarno dan kawan-kawan dan kembali ke Yogyakarta. Dan akhirnya pada tanggal 14 juli 1949 PDRI secara resmi mengembalikan mandat kepada Soekarno dan Hatta beserta para mentri kabinet.

Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949.
Setelah penyerahan mandat tersebut Syafruddin diangkat menjadi Wakil Perdana Mentri pada tahun 1949, kemudian di angkat menjadi Mentri Keuangan dalam kabinet Soekarno Hatta yang terkenal dengn kebijakanya menggunting uang senilai Rp.5 keatas, kebijakan tersebut di kenal dengn Gunting Syafruddin. Setalah itu pada tahun 1951 Syafruddin di angkat menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia pertama.

5. Masa tua Syafruddin


Di masa tuanya Syafruddin memilih mengisi hari-hari tuanya dengan berdakwah namun dalam dakwahnya ini Syafruddin sering mengalami pelarangan, hingga pada bulan juni 1985 beliau di periksa akibat isi khotbahnya saat hari Raya Idul Fitri.

Beliau menutup usianya di Jakarta pada usia 77 tahun yaitu tanggal  15 februari 1989 tepat 13 hari sebelum ulang tahunya yang ke 78.


Itu lah sekelumit kisah perjalanan Syafrudin seorang anak Sunda dari Banten yang menjadi pahlawan kemerdekaan dan pernah menjabat sebagai Ketua PDRI atau sederajat dengan Presiden.


Terimakasih sudah mengunjungi situs kami, semoga bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua🙏

LihatTutupKomentar