Sejarah Cut Nyak Dhien Wanita Tua, Rabun di Sumedang


Sejarah Cut Nyak Dhien Wanita Tua, Rabun Di Sumedang

Sejarah Cut Nyak Dhien perempuan Aceh yang menjadi Ratu perang Aceh pada masa tuanya mengalami siksaan baik fisik maupun mental dari Belanda, namun ia masih tetap teguh dan taat dalam menjalankan syariat islam, jauh dari tanah kelahiranya dan di penuhi dengan kesepian itu lah masa tua dari Cut Nyak Dhien.

Berikut ini adalah sejarah Cut Nyak Dhien dari awal perjuangan hingga wafatnya:

1.Masa Kecil Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien adalah seorang gadis kecil yang cantik lahir dari keluarga bangsawan di lampadang 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia adalah seorang uleebalang dan keturunan perantau dari Minang Sumatra Barat ke Aceh pada abad 18. Cut Nyak Dhien tumbuh dilingkungan taat beragama membuat ia tumbuh menjadi gadis cerdas dan taat beragama.

Cut Nyak Dhien menikah pada usia 12 tahun dengan seorang anak Uleebalang Lamnga yang bernama Teuku Ibrahim Lamnga.

Pada tanggal 1 april 1873 Nieuwenhuyzen menyatakan perang dengan kesultanan Aceh dan peperangan pun pecah di daerah Aceh, serangan demi serangan di lancarkan Belanda terhadap Kesultanan Aceh, namun selalu berhasil di bendung oleh Laskar Aceh dan pasukan lainya.

Dalam penyerangan Belanda tersebut berhasil di halau oleh para laskar pejuang di aceh dan Cut Nyak Dhien tentunya. Dengan bersenjatakan rencong Cut Nyak maju kemedan perang dengan gagah dan berani tampa takut sedikitpun, apalagi ketika Masjid Raya Aceh di bakar oleh Belanda, Cut Nyak mengamuk dan berteriak di hadapan masyarakat membakar semangat juang rakyat.

2. Perjuangan Cut Nyak Dhien

Didalam catatan Szekely Lulofs, 1951:59 Perang Aceh adalah kisah keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Cut Nyak Dhien. Ia bersama ayah dan suaminya, setiap hari bahkan setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kolonial Belanda. Tetapi didalam perang itu Cut Nyak kehilangan orang yang ia cintai satu persatu, ayah dan suaminya gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 juni 1870.

Pada tahun 1872 Cut Nyak Dhien menerima tawaran Teuku Umar untuk bergabung denganya dan dengan pertimbangan strategi perang. Tetapi dalam serangan yang di lakukan Belanda di Meulaboh pada 11 februari 1899 Teuku Umar gugur. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat Cut Nyak, dalam berperang melawan belanda, karena bagi Cut Nyak  perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, Teuku Nanta Setia ayahnya, atau para lelaki Aceh. Perang Aceh adalah milik seluruh rakyat Aceh.

Cut Nyak Dhien tetap melakukan serangan terhadap Belanda bertahun-tahun lamanya pikiran energi semua di kerahkan Cut Nyak Dhien untuk mengusir kolonial.

Cut Nyak Dhien di buru oleh Belanda hingga memaksa beliau berpindah-pindah tempat untuk mencari persembunyian di hutan belantara dalam waktu yang lama hingga akhirnya kondisi tersebut membuat Cut Nyak Dhien dan pasukanya kekurangan makanan dan membuat kondisi fisik dan kesehatannya dan pasukan menurun.

Di dalam kondisi kekurangan makanan dan kesehatan yang menurun, di tempat persembunyianya Cut Nya Dhien dan pasukanya di serang oleh Belanda pada 16 november 1905 dan beliau mengalami kekalahan hingga akhirnya Cut Nyak Dhien tertangkap dan di bawa ke Banda Aceh lalu dibuang ke Sumedang Jawa Barat.

3. Siksaan Terhadap Cut Nyak Dhien

Setelah di tangkap ini lah kisah Cut Nyak Dhien begitu teragis dan memilukan, beliau mengalami siksaan baik secara fisik, mental maupun pelecehan seksual oleh tentara Belanda dalam kurun waktu bertahun-tahun lamanya di dalam penjara bawah tanah Belanda sampai ingatanya menghilang, setelah mengalami siksaan yang begitu kejam dan menderita dengan kondisi fisik Cut Nyak Dhien yang makin menua dan melemah, Belanda tidak langsung membunuhnya, melainkan Cut Nyak Dhien di buang ke penjara Belanda di Sumedang.

Tanggal 11 Desember 1906 Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriatmadja menerima tawanan titipan Belanda berjumlah 3 orang, yaitu seorang nenek-nenek yang sudah pikun, rabun dan encok, seorang pria berumur 50 tahun dan seorang remaja berumur 15 tahun. Dengan memakai pakaian kusut dan fisik yang lesuh mereka bertiga tetap tabah menjalani hukuman dari Belanda. Dengan kondisi fisik yang memprihatinkan Cut Nyak Dhien masih tetap teguh dan taat beribadah imanya masih berdiri dengan kokoh meski hingatanya telah hilang.

Hingga suatu saat ketaatan beribadah dari Cut Nyak Dhien menarik perhatian Pangeran Aria hingga beliau memindahkan Cut Nyak Dhien ke tempat salah satu tokoh agama, sayangnya Pangeran Aria dan tokoh agama itu tidak menyadari bahwa wanita tua rabun,pikun dan encok itu adalah sang singa betina Cut Nyak Dhien hingga akhir hayatnya.

4. Akhir Perjalanan Cut Nyak Dhien

Semasa tinggal di rumah tokoh agama tersebut Cut Nyak Dhien dengan kondisinya yang makin melemah dan menua ia hampir tidak keluar rumah, hari-harinya di isi dengan mengajar ngaji anak-anak dan ibu-ibu di daerah tersebut. Tak jarang banyak ibu-ibu yang membawakanya pakaian dan makanan untuknya, di karenakan wawasan beliau akan ilmu agama cukup luas dan mengajarkan agama kepada masyarakat sekitar khususnya anak-anak dan ibu-ibu, Cut Nyak Dhien di juluki sebagai Ibu Perbu.

Semuanya tidak ada yang tau bahwa Ibu Perbu si wanita tua tersebut adalah seorang Singa Betina dari Aceh bernama Cut Nyak Dhien dengan berbekal senjata rencong maju kemedan perang tampa rasa takut sedikitpun. Namun sayang masa tuanya di isi dengan hal yang mengenaskan dan kesepian di negeri sebrang jauh dari tempat kelahiranya.

Setelah perjuangan dan perjalanan yang sangat panjang melewati masa-masa siksaan yang begitu kejam akhirnya beliau wafat pada 06 november 1908 di Sumedang san di makamkan di Gunung Puyuh.



Ini lah sekelumit kisah perjuangan Cut Nyak Dhien hingga akhir hayatnya yang membuat para sejarahwan dunia terkagum oleh sosoknya seperti Zentgraaff yang mengatakan, para wanita lah yang merupakan pemimpin perlawanan terhadap Belanda dalam perang besar itu. Mohon maaf atas kekurangnya dan terimakasih sudah mengunjungi Blog ini semoga bermanfaat.
Sumber :Szekely Lulofs, 1951:59

LihatTutupKomentar