Sejarah Kerajaan Banten Terlengkap

Sejarah Penghianatan Sultan Haji Kepada Kesuktanan Banten
Lukisan Sungai di dekat Keraton Surosowan

Sejarah Kerajaan Banten menjadi salah satu Kerajaan islam  Besar di Pulau jawa setelah Kerajaan Demak, banyak sejarah yang menceritakan kejayaan Kerajaan Banten di masalalu, sehingga mendorong keinginan masyarakat untuk menjadikan daerah Banten menjadi daerah otonomi melepaskan diri dari provinsi Jawa Barat dari 1926, puncaknya pada masa reformasi melalui UU no 23 tahun 2000, provinsi Banten secara resmi berdiri.

Nah,,, lalu seperti apa sejarah Kerajaan Banten di Masa lalu?, Berikut inu kita akan membahas sejarah kerajaan Banten meliputi Awal Berdirinya, Raja-raja, Masa kejayaan, Masa Runtuhnya hingga Warisan dari kerajaan Banten.


1. Awal Berdiri Kerajaan Banten

Kerajaan Banten berbentuk Kesultanan atau kerajaan islam, kerajaan Banten didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanuddin dan ayahnya Syarif Hidayatullah atau sunan Gunung Jati.

Tujuan didirikanya Kerajaan Banten selain dakwah islam adalah untuk membendung pengaruh portugis di sunda kalapa yang berkerja sama dengan kerajaan sunda.

Pada tahun 1522 seseorang yang bernama Fatahillah di tugaskan untuk menyerang Portugis di Sunda Kalapa atau Batavia. Peperangan itu di menangkan Fatahillah dan berhasil mengusir Portugis.

Setelah peperangan itu, sunan Gunung Jati memerintahkan Putranya yaitu Maulana Hasanuddin untuk berdakwah didaerah Banten, menurut versi Babad Sultan Hasanuddin dalam dakwahnya beliau melawan seorang bernama Prabu Pucuk Umun. Setelah berhasil mengalahkanya Sultan Hasanuddin mendirikan kekuasaan di banten tetapi masih di bawah pengaruh Kerajaan Demak.

Baca juga :

Pada tahun 1552 terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak sehingga Sunan Gunung Jati memerintahkan Putranya Sultan Hasanuddin untuk mendirikan Kerajaan Banten secara berdaulut.

2. Pendiri Kerajaan Banten

Kerajaan Banten didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanuddin atas restu ayahnya, untuk mempermudah dakwah islam.

Didalam versi Babad didalamnya di katakan bahwa kondisi masyarakat Banten sebelum abad 15 adalah beragama Hindu.

3. Raja-raja Banten

Beliau menjadi raja pertama Kerajaan Banten sekaligus pendiri, beliau berkuasa selama 18 tahun dari 1552-1570M.

Pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berfokus pada penyebaran atau dakwah syariat islam.

Beliau menjadi raja Kerajaan Banten setelah ayahnya meninggal, Sultan Maulana Yusuf berkuasa selama 10tahun yaitu dari tahun 1570-1580M.

Dalam masa jabatannya Kerajaan Banten mengalami perkembangan secara kebudayaan-nya, banyak terjadi akulturasi dari Budaya Lokal dengan syariat Islam seperti, Teater Ubrug, Tari Dzikir Saman dan lain-lain.

Beliau menjadi raja Kerajaan Banten pada usia 11 Tahun sehingga pemerintahanya di bantu oleh Mangkhubumi hingga usia beliau 16 tahun, beliau berkuasa dari Tahun 1580-1596 M
Pada masa kekuasan beliau Kerajaan Banten menyerang kerajan palembang dan didalam pertempuran itu Sultan Maulana Muhammad meninggal Dunia.

Beliau menjadi raja Kerajaan Banten di usia 5 bulan setelah wafat ayahnya, untuk sementara pemerintahan di bantu oleh Mangkhubumi hingga Sultan Abdul Mufakhir cukup dewasa.
Beliau menjabat sebagai raja Kerajaan Banten selama 55 tahun yaitu dari 1596-1651M, pada masa kekuasaan beliau ini Belanda menginjakan kakinya di Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa menjadi raja kerajaan Banten 31 tahun dari tahun 1651-1682 M, di masa kekuasan beliau Banten berada pada puncak Kejayaanya, dia memperluas daerah kekuasan Kerajaan Banten sampai tahun 1671. 

Sebelum beliau turun tahta dari raja Kerajaan Banten, beliau mengangkat putra mahkotanya yang bernama Sultan Haji sebagai raja pembantu, tetapi Sultan Haji memilih untuk bekerja sama dengan Belanda sehingga membuat Sultan Ageng Tirtayasa marah dan terjadi perang saudara hingga akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Batavia.

4. Puncak Kejayaan Kerajaan Banten

Puncak Kejayaan Kerajaan Banten baik secara Politik Maupun Ekonomi ada pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa, yang berhasil memperluas daerah Kekuasaannya hingga tahun 1671 hingga menaklukan  Kerajan Tanjung Pura pada tahun 1661, bukan hanya dari segi wilayah kekuasan, Kejayaan Kerajaan Banten pada saat itu berhasil menguasai monopoli perdagangan lada di Lampung sampai ke Bengkulu sehingga Kerajaan Banten menjadi salah satu pusat Perdagangan di indonesia pada saat itu.

5. Kemunduran Kerajaan Banten

Kerajaan Banten Mengalami Kemunduran atau kelemahan setelah di angkatnya Sultan Haji menjadi pembantu raja, dan tindakan Sultan Haji yang berkerjasama dengan Belanda dan menimbulkan Perang Saudara.

Baca juga :
Sejarah Penghianatan Sultan Haji Kepada Kesultanan Banten

Selain terjadinya Perang Saudara, yang di manfaatkan oleh Belanda yang membantu Sultan Haji dalam mengahadapi Ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa, atas bantuan Belanda tersebut Sultan Haji harus membayar kepada VOC salah satunya dengan memberikan wilayah Lampung pada 12 maret 1683 kemudian pada 22 agustus 1682 sultan Haji secara resmi menyerahkan monopoli perdagangan lada di Lampung kepada  Belanda. Berikut ini beberapa faktor penyebab kemunduran Kerajaan Banten :


  • Perang saudara yang terjadi di dalam keluarga Kerajaan
  • Sultan Ageng berhasil di kalahkan dan di tangkap oleh Belanda sehingga Sultan Haji berkuasa penuh atas Kerajaan Banten
  • Sultan Haji melepas wilayah Lampung dan menyerahkan monopoli perdagangan lada di Lampung kepada Belanda atas jasanya yang membantu sultan Haji dalam perang saudara.
  • Meninggalnya Sultan Haji pada tahun 1687 membuat Kerajaan Banten berada dalam genggaman Belanda.

6. Runtuhnya Kerajaan Banten

Sepeninggal Sultan Haji, setiap urusan pemerintahan kerajaan Banten berada pada pengawasan dan pengaturan Belanda, terbukti dari pengangkatan raja harus berdasarkan persetujuan Belanda, Belanda sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan Kerajaan Banten hingga memancing amarah dari keluarga kerajaan dan masyarakat Banten sendiri, pada akhirnya menimbulkan peperangan dan pemberontakan di mana-mana.

Akhir masa Kerajaan Banten pada tahun 1808 ketika Gubernur Jendral  Herman Willem Deandels membangun Jalan Raya Pos Dari Anyer samapai ke Panarukan, dalam pembangunan tersebut Deandels meminta kepada raja Kerajaan Banten yaitu sultan Abu Nashr Muhammad Ishaq Zainulmutaqin untuk memindahkan ibu kota Kerajaan Banten ke Anyer dan menyediakan pekerja untuk membangun pelabuhan di Ujung Kulon, tetapi sultan  menolak perintah Deandels, sehingga Deandels menyerang Keraton Surosowan dan berhasil menangkap Sultan Abu Nashr dan dipenjarakan di Benteng Speelwijk, kemudian di buang/diasingkan ke Bantavia hingga wafat, Setelah berhasil menyerang keraton Surosowan dan menangkap Sultan.

Deandels mengumumkan wilayah kerajaan Banten menjadi bagian dari Hidia Belanda, serta pembebasan Lampung dari wilayah wilayah tersebut, inilah akhir dari masa kerajaan Banten.

7. Warisan Kerajaan Banten



Keraton Kaibon ini adalah tempat tinggal Ibunda Ratu dan Permaisuri dari para raja Kerajaan Banten, tetapi ada juga pendapat lain mengenai asal usul Keraton Kaibon.
Letaknya tidak jauh dari istana kerajaan Banten, berada di pinggir jalan menuju Karangantu.


Keraton Surosoan adalah tempat atau istana Kerajaan Banten dan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banten. Di bangun pada tahun 1522 oleh sultan Hasanuddin, Keraton ini memiliki tiga gerbang masuk yaitu di bagian utara, timur dan selatan, didalamnya juga terdapat kolam pemandian untuk keluarga Kerajaan.


Benteng ini di bangun pada tahun 1585 pada masa Sultan Maulana Muhammad, dengan tinggi tiga meter dan disertai Mercusuar, bertujuan untuk Memantau Keamanan Kerajaan Banten dari ancaman laut dan memantau lalulintas perdagangan jalur laut.


Masjid Agung Banten di bangun pada tahun 1556 oleh Sultan Hasanuddin selaku Raja Kerajaan Banten pertama, dengan gaya arsitektur mirip dengan Masjid Agung Demak yaitu memiliki kubah berbentuk kerucut dan menara terpisah.


Letaknya tidak jauh dari keraton Surosoan, di bangun pada zaman Sultan Maulana Yusuf untuk menjadi sumber mata air dan irigasi untuk persawaha.


Masjid ini didirikan khusus untuk para komunitas Tionghoa muslim di Banten Sekitar abad 15-16, tetapi masih ada klaim lain tentang asal usul pendirian Masjid Pecinan ini.
Lokasinya di kampung Dermayon berjarak 400-500 meter dari Keraton Surosoan.


Penamaan Meriam Ki Amuk menurut K.C Crucq di ambil berdasarkan sebuah nama yang terdapat didalam peta yang di buat pada abad 17 didalamnya terdapat tulisan meriam besar bernama t Desperant selanjutnya dia mentafsirkan sebagai Ki Amuk.

Ada juga yang berpendapat meriam Ki Amuk adalah hadiah pernikahan dari sultan Demak kepada Sultan Hasanudin, Baca selengkapnya klik disini!


Demikian sejarah Kerajaan Banten dari awal Berdiri, Raja-raja, masa Kejaayan, masa Runtuhnya hingga warisan dari kerajaan Banten, bagai mana pendapat anda setelah membaca artilel ini? Jika anda merasa senang maka jangan lupa untuk share artikel ini keteman-teman kalian, dan mohon maaf apabila ada kesalahan, dan trimakasih sudah mengunjungi blog ini jangan bosen yah🙏

LihatTutupKomentar