July 27, 2020

Kisah Perjuangan Pangeran Antasari

Kisah Perjuangan Pangeran Antasari
Lukisan Pangeran Antasari

Pangeran Antasari merupakan salah satu pahlawan nasional dari Banjar, ia merupakan sultan Banjar dan dinobatkan pada tanggal 14 Maret 1862 menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin yang diberikan oleh Kepala Suku Dayak dan Tumenggung Surapati seorang Adipati di Dusun Atas.

Pangeran Antasari sewaktu mudanya kerap dipanggil Gusti Inu Kartapati, dia lahir dari keluarga bangsawan, ayahnya bernama Pangeran Masohut anak Pangeran Amir anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, sedangkan ibundanya bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman, di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan dari Bapak maupun Ibundanya.

Buyutnya yakni Sultan Aliudin Aminullah gagal naik tahta di tahun 1785 akibat dilengserkan oleh walinya sendiri yakni Pangeran Nata dengan dukungan Belanda, menganggap dirinya sendiri sebagai penguasa dengan gelar Sultan Tahmidullah II.

Biografi Singkat Pangeran Antasari


Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Banjar pada 1797( tanggal lahirnya tidak diketahui), dia mempunyai dua orang istri yakni : Ratu Idjah binti Sultan Adam dan Nyai Fatimah yang merupakan adik Tumenggung Surapati, dari kedua orang Istri, beliau memiliki 3 orang putra dan 8 orang putri sebagai berikut :
  • Panembahan Muhammad Said (dari Ratu Idjah)
  • Sultan Muhammad Senam (dari Nyai Fatimah)
  • Putri Hasiah
  • Putri Kaidah
Sisanya 7 anak Pangeran Antasari tidak diketahui, dia juga memiliki adik perempuan bernama Ratu Sultan Abdul Rahman yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam, tetapi suaminya meninggal disaat dia melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Rahmatillah, tetapi sang pewaris tersebut meninggal saat masih bayi.


Dari kecil Pangeran Antasari mendapatkan didikan agar terbiasa hidup sederhana diluar wilayah Kerajaan dengan berbaur pada masyarakat kecil, jadi wajar saja jika di dalam diri beliau tertanam jiwa sosial tinggi, tak luput didikan untuk anti Belanda sudah tertanam pada dirinya, doktrin tersebut sudah ditanamkan oleh ayahnya semenjak kecil, maka dengan gigih dan mengobarnya semangat untuk melawan Belanda ada pada jiwanya.

Meskipun seorang keturunan Bangsawan namun ia hidup berbaur dengan masyarakat kecil, sampai paham dan mengerti perasaan, kemauan dan penderitaan dari rakyat yang tertindas akibat ulah Belanda.

Masa Perjuangan Pangeran Antasari Melawan Belanda


Selain membuat masyarakat Banjar menjadi menderita, Belanda juga mencampuri urusan kerajaan, terbukti dengan Belanda mengangkat Sultan Tajmid sebagai sultan Banjar padahal yang semestinya naik tahta adalah Sultan Hidayat, namun karena Sultan Tajmid dibenci oleh Rakyat dan dekat dengan Belanda maka dia yang diangkat.

Selain mengintervensi urusan dapur Kesultanan Banjar, adu domba juga dilakukan Belanda untuk melemahkan Pengaruh Kesultanan Banjar, di acak-acak dari dalam sampai banyak keluarga istana saling benci dan saling serang. Melihat kekacauan yang terjadi di Istana, Pangeran mengambil peran dan membela apa yang menjadi hak Sultan Hidayat.


Perbuatan Belanda mengintervensi Kesultanan Banjar menjadi alasan Pangeran Antasari semakin benci dan melakukan perlawanan dengan Belanda sehingga bertekad untuk mengusir Belanda bersama rakyat Banjar bergabung dengan Kepala suku di daerah-daerah Hulu sungai tanpa kompromi dan berperang sampai titik darah penghabisan.

Pangeran Anitasari sebenarnya jika dilihat dari silsilah, ia lah yang paling hak atas tahtah kerajaan Banjar, sebab kakeknya Pangeran Amir digagalkan untuk naik tahta oleh Belanda di tahun 1785. Meskipun beliau bukan Sultan Banjar Namun Pangeran Antasari dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar bahkan Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Kutai, Sihong, Pasir, Murung, Bakumpai dan suku-suku lainya di pedalaman dan disepanjang Sungai Barito menganggapnya sebagai pemimpin tertinggi, bersatu mengusir Belanda.

Sebelumnya beliau berperang melawan Belanda disisi Sultan Hidayattullah, namun sultan berhasil ditipu oleh Belanda dengan  menyandera ibundanya Ratu Siti, kemudian ia di buang dan diasingkan ke Cianjur, setelah sang pemimpin diasingkan maka Pangeran Antasari pengambil alih kursi kepemimpinan Rakyat Banjar.

Seluruh rakyat Banjar dari berbagai golongan, seperti para alim ulama, panglima Dayak, Pejuang, dan Bangsawan Banjar semua sepakat dengan suara lantang dan bulat mengangkat Pangeran Antasari sebagai Pemimpin Perang besar rakyat Banjar sekaligus pemuka agama dengan gelar “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”.

Bagi Pangeran Antasari tidak ada alasan berhenti berperang, sampai ajal menjemput, mau tidak mau dia harus menerima kedudukan sebagai pengganti Pangeran Hidayatullah dan bertekad melanjutkan perjuangan dan tugasnya untuk membebaskan rakyat Banjar dari cengkeraman Belanda.

Sebagai seorang yang penuh dedikasi, wibawa dan semangat yang besar untuk mengusir Belanda, maka Pangeran Antasari membuat Jargon “ Hidup Untuk Allah dan Mati untuk Allah” untuk membakar semangat rakyat Banjar dalam perang, Seruan itu disuarakan beliau pada 14 Maret 1862 di hadapan rakyat Banjar.


Perang besar rakyat Banjar dimulai pada tanggal 25 April 1859 ketika Pangeran Antasari bersama 300 prajurit  melakukan penyerangan ke tambang batu bara Belanda di Pangaron sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda. Kemudian muncul api perjuangan dan perlawanan Rakyat Banjar pimpinan beliau di seluruh wilayah kerajaan Banjar.

Beliau bersama-sama pasukan dan Panglima perang yang setia padanya, melakukan penyerang ke pos-pos Belanda di beberapa daerah seperti : Martapura, Riam Kanan, Tanah Laut, Sepanjang sungai Barito, Tabalong dan sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran besar antara Pangeran Antasari dengan Belanda terus terjadi dan semakin panas di beberapa wilayah, situasi ini membuat Belanda terdesak dan meminta bantuan dari Batavia, setelah bala bantuan datang, keadaan menjadi terbalik sebab Belanda dapat mendesak pasukan  beliau dan memaksanya untuk memindahkan markas besarnya di Muara Teweh.

Perjuangan dia membuat Belanda kerepotan dan sering kali membujuknya untuk menyerah atau berdamai, namun tawaran Belanda ditolaknya dengan tegas dan tetap pada pendirian, berperang sampai ajal menjemput.

Kerap kali Belanda mengadakan saimbara dengan imbalan 10.00 gulden bagi siapa saja yang dapat menangkap Pangeran Antasari hidup atau mati namun sampai perang selesai enggak ada orang yang bersedia menerima tawaran tersebut.

Wafatnya Pangeran Antasari


Setelah perjuangan bertahun-tahun bersama rakyat dan para pengikut setianya, pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang pada umur 75 tahun dan dimakamkan di hulu sungai Barito, semasa hidupnya beliau tidak perah tertangkap, menyerah apalagi tertipu Belanda.

Sebelum wafat beliau mengalami sakit paru-paru dan cacar setelah pulang dari perang di bawah bukit Bagantung, Tundakan, setelah wafat perjuangannya diteruskan oleh anaknya yakni Muhammad Seman.

Setalah Indonesia merdeka atas kemauan masyarakat Banjar dan persetujuan keluarga maka makam beliau dibongkar Pada tahun 11 November 1958, jasadnya tersisa tulang tengkorak dan beberapa helai rambut diangkat dan di pindahkan ke Taman Makam Perang Banjar, terletak di Surgi Mufti, Banjarmasin.


Atas jasa Pangeran Antasari yang sangat besar maka ia dikarunia penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 27 Maret 1969, kemudian namanya diabadikan sebagai nama jalan maupun nama Korem 101/Antasari, kemudian gambar nya juga terpanggang pada uang kertas Rp 2000.

Peran Penting Pangeran Antasari


Sebagai Panutan dan pemimpin Masyarakat, dia memiliki peran besar yang sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Banjar, antara lain sebagai berikut:

Seorang Alim Ulama


Pangeran Antasari kuat dalam pendidikan di bidang agama, ia diajarkan ilmu agama, nilai-nilai syariat dan langsung ia terapkan dikehidupanya, sehingga banyak masyarakat yang turut berguru ilmu agama dengannya.

Nilai-nilai Islami melekat pada dirinya bahkan perjuangnya dilandasi spirit agama selain nasionalismenya, dibuktikan dengan jargon Hidup dan Mati untuk Allah di setiap perangnya.

Memperjuangkan suara Rakyat kecil


Dari kecil Pangeran Antasari sangat dekat hubungannya dengan rakyat kecil, wajar saja jika dia paham keinginan dan kesengsaraan rakyatnya. Banyak rakyat yang merasa ada batasan komunikasi dengan kerajaan, jadi jika ada pesan atau aspirasi harus ada perantara untuk menghubungkan aspirasi tersebut.


Pangeran Antasari menjadi perantara aspirasi rakyat untuk disampaikan ke Istana Kesultanan, dia adalah orang yang amanah dan dapat dipercaya sehingga pesan rakyat dapat sampai dengan baik dan terciptanya kedekatan rakyat dengan kesultanan.

Pemersatu Rakyat Banjar


Meskipun Pangeran Antasari seorang keturunan bangsawan dan beragama Islam, namun kedekatannya dengan rakyat kecil dan Suku-suku yang ada di Banjar dan sekitarnya terjalin dengan baik, bahkan para kepala suku sepakat menjadikan Pangeran sebagai pemimpin mereka dalam perang melawan Belanda.

Semua rakyat mengalami penderitaan yang sama, membuat mereka sadar sudah di adu domba dan dibuat sengsara oleh Belanda, berawal dari penderitaan yang sama menimbulkan rasa persatuan dan tujuan yang sama yakni mengusir penjajah dari tanah mereka.

Seperti itulah cerita perjuangan Pangeran Antasari, seorang pahlawan Nasional dari keturunan bangsawan namun memiliki kedekatan yang mesra dengan rakyat kecil, memahami keluh kesah rakyat, semoga bermanfaat.