Html

Perjuangan Pahlawan Sam Ratulangi

Perjuangan Pahlawan Sam Ratulangi



Sam Ratulangi adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Selatan, dimasa hidupnya dia terkenal sebagai politikus maupun seorang guru, menjadi seorang yang membacakan ulang teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Sulawesi.


Dalam sejarah yang paling dikenal karyanya adalah sebuah pemikiran Filsafatnya yakni Si tou timou tumou tou yang artinya manusia adalah yang bisa memanusiakan manusia.


Biografi Sam Ratulangi


Sam Ratulangi bernama asli Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, doa lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 5 November 1890, sam merupakan seorang politikus, jurnalis, dan guru di Sulawesi Utara. Ayahnya bernama Jozias Ratulangi dan ibunya Augustina Gerungan.


Ayahnya berprofesi sebagai guru di Hoofden School atau sekolah menengah khusus untuk anak-anak kepala desa di Tondano, Jozias menempuh pendidikan guru di Haarlem, Belanda pada tahun 1880, sedangkan ibunya adalah putri Jacob Gerungan seorang kepala Distrik Tondano-Touliang.


Dalam riwayatnya Sam Ratulangi menikah dua kali seri pertamanya bernama Emilie Suzanne Houtman dan dari pernikahannya tersebut mereka dikaruniai dua orang anak bernama Corneille Jose Albert dan Emilia Agustina.


Baca Juga : Perjuangan Frans Kaisiepo Pahlawan Nasional Dari Papua


Tetapi ditahun 1926 mereka bercerai dan ditahun 1928 Sam menikah lagi dengan Maria Catharina Josephine, mereka di karuniai tiga anak bernama Milia Maria Matulanda, Everdina Augustina, dan Wularingan Manampira.


Pendidikan Sam Ratulangi


Memulai pendidikannya di sekokah dasar Belanda di Tondano, kemudian setelah lulus ia melanjutkan ke Hoofden School sama-sama di Tondano, kemudian setelah lulus kiranya tahun 1904 barulah dia pindah ke Jawa untuk melanjutkan sekolah di Pendidikan Dokter Hindia(STOVIA) berkat beasiswa yang ia dapat.


Disaat perjalanannya ke Jawa, setelah sampai Batavia, Sam berubah pikiran dan lebih memilih bersekolah di Sekolah Menengah Teknik Koningin Wilhelmina. Tahun 1904 dia lulus dan mulai bekerja di konstruksi rel kereta api daerah Priangan, Jawa Barat, namun setelah bekerja dia merasa diberlakukan tidak adil atas upah maupun penginapan.


Ditahun 1911, Sam Ratulangi mendapatkan kabar buruk dari ibunya yang sedang sakit parah, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke Minahasa, namun sayangnya Ibunya meninggal pada tanggal 19 November 1911, sedangkan ayah Sam wafat saat ia di Jawa.


Sepeninggal ibunya, Sam melanjutkan kuliah ke Amsterdam Belanda 1912, setelah ia mendapatkan warisan dari ibunya yang dibagi rata dengan kedua saudara perempuannya, lalu tahun 1913 dia mendapatkan sertifikasi mengajar matematika ditingkat sekolah menengah.


Sebenarnya sam tidak sampai selesai studinya di universitas Amsterdam tersebut, karena dia tidak boleh mengikuti ujian. Aturan universitas mewajibkannya untuk memiliki ijazah tingkat SMA, apalah daya Sam tidak menyelesaikan pendidikannya di Hogere Burgerschool sehingga dia tidak memiliki Ijazah SMA.


Beruntunglah Sam bertemu dengan Mr. Abendanon, orang Belanda yang memiliki rasa empati kepada orang Hindia Belanda(Indonesia), atas saranya, Sam kemudian mendaftar di Universitas Zurich Swiss dan berhasil diterima sampai lulus dan menyandang gelar Doktor der Natur-Philosopi/ Dr. Phill.


Peran Sam Ratulangi


Semasa Sam berada di Amsterdam, dia bertemu dengan Saudara RA Kartini bernama Sosro Kartono, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat, mereka ini adalah mahasiswa Indonesia yang aktif dibidang gerakan nasionalisme di Belanda.


Dalam Kariernya dia berhasil terpilih sebagai ketua Perhimpunan ditahun 1914, dimasa kepemimpinannya, Sam kerap mengundang para pembicara di seminar yang terbilang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Conrad Theodore van Deventer dan Jacques Henrij Abendanon. Ketika di Swiss dia juga aktif di organisasi Asosiasi Mahasiswa Asia.


Sam Ratulangi aktif di organisasi dalam sering membuat artikel, salah satunya berjudul Sarekat Islam, disitu dia menulis tentang memuji gerakan Boedi Otomo di Indonesia dan pertumbuhan Koperasi Lokal Sarekat Islam.


Baca Juga: Biografi Sultan Hasanuddin


Setelah menyelesaikan studinya di Swiss, Sam kembali ke tanah air pada tahun 1919 dan pindah ke Yogyakarta dan menjadi guru Matematika dan sains di Prinses Juliana School selama tiga tahun, kemudian pindah ke Bandung dan membangun perusahaan asuransi Assurantie Maatschappij Indonesia bersama Roland Tumbelaka. 


Konon pertemuan Sam dengan Ir. Soekarno terjadi di Bandung saat Bung Karno menghadiri acara Konferensi di sana dan penasaran dengan nama perusahaan milik Sam yang nama belakangnya memakai nama Indonesia.


Sam Ratulangi pernah di calonkan sebagai sekretaris badan perwakilan daerah Minahasa di Manado oleh partai Perserikatan Minahasa dan menduduki jabata Ini selama 3 tahun dari 1924-1927. Selama menjabat dia memperjuangkan kesejahteraan orang Minahasa dan berusaha menghapus sistem kerja paksa di Minahasa.


Selain itu dia juga ikut serta dalam pembentukan yayasan yang membiayai pendidikan siswa yang kesulitan dan ikut andil dalam pembukuan daerah Modoinding dan Kanaron di Minahasa Selatan guna mencatat transmigrasi.


16 Agustus 1927, Sam dan R. Tumbelaka membentuk partai Persatuan Minahasa, yang mana anggotanya berisi orang sipil dan militer. Ada beberapa anggota militer yang memberontak dan karena hal tersebut mereka dilarang ikut dalam organisasi Politik oleh Belanda.


Akibat kejadian tersebut, Ratulangi dan Tumbelaka akhirnya membentuk partai baru yang anggotanya hanya berisi warga sipil bernama Persatuan Minahasa, partai ini memberikan identitas lokal kepada seluruh anggotanya yang mewakili seluruh Sulawesi dengan tujuan mengampanyekan persatuan skala nasional.


Menyerukan solidaritas ke semua kelompok penduduk Indonesia dan ditahun 1939 Partai ini menjadi salah satu partai yang membentuk gabungan Partai Politik Indonesia, adapun partai tersebut adalah : Gerindo, Pasundan, Parinda, PPKI dan PSII.


Pada tahun 1927 Sam Ratulangi diangkat menjadi anggota dewan rakyat mewakili Minahasa titik dia terus menerus menggaukan hak rakyat dan mendukung si nasionalisme dengan cara menjadi anggota Fraksi kebangsaan ala Husni Thamrin.


Dia termasuk salah satu sponsor petisi Soetardjo yang memiliki keinginan negara merdeka melalui reformasi selama 10 tahun. Di sini melewati dewan rakyat namun ditolak Belanda. Akibat penolakan dari Belanda petisi ini membentuk GAPI.


Di tahun 1932 Sam Ratulangi termasuk di dalam pendiri persatuan cendekiawan Indonesia selain itu dia juga masuk sebagai kelompok pemimpin gereja dan nasionalisme yang berkeinginan memisahkan diri dari lembaga gereja resmi Hindia Belanda titik tahun 1933 dia berhasil mendirikan kerapatan gereja Protestan Minahasa.


Indonesua in de Pacific merupakan salah satu karya tulisan Sam yang diterbitka. Pada bulan Juni 1937 namun isi bukunya dianggap visioner, sebab dia mengingatkan ancaman militer Jepang dan menduga akan menyerang kepulauan Indonesia dengan tujuan mengeruk sumber daya alam.


Sam Ratulangi terkenal karena mengkritik   pemerintahan Hindia Belanda sehingga mereka menganggapnya sebagai ancaman kemudian ditangkap sebagai tahanan politik dipenjarakan di Lapas Sukamiskin Bandung selama beberapa bulan.


Setelah bebas dari penjara di tahun 1938, memilih menjadi editor Nationale Commentaren yakni sebuah majalah berita, dia memanfaatkan pekerjaannya itu untuk menulis pendapat mengenai ketidakadilan pemerintahan hindia-belanda dan juga membuat ada orang Indonesia akan keadaan saat itu titik langganan majalah tersebut termasuk kantor Perdana Menteri Belanda, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan kementerian Hindia Belanda.


Ketika Belanda menyerah kepada Jepang, kegiatan politik Indonesia dilarang dan semua organisasi yang berhubungan dengan politik dibubarkan, peran Sam waktu itu dia ikut dalam upaya banyuan kepada keluarga tentara KNIL.


Di tahun 1944 dia dipindahkan ke Makassar dan dijadikan sebagai penasehat pemerintah militer dan termasuk wilayah timur yang dikuasai oleh angkatan laut Jepang pada bulan Juni 1945 sampah tulangnya mendirikan organisasi SUDARA( Sumber Darah Rakyat), dan digunakan sebagai alat pembangkit nasionalisme di Sulawesi untuk persiapan kemerdekaan dalam waktu dekat.


Menjadi Anggota PPKI


Di awal Agustus 1945, samratulangi menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI sebagai wakil Sulawesi . Pada saat proklamasi kemerdekaan ia hadir di sana Setelah tiba di Batavia bersama anggota PPKI lainnya untuk mengikuti rapat.


Rapat tersebut menghasilkan undang-undang Dasar Republik Indonesia dan mengangkat Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, kedua hal tersebut Di dalam rapat tadi juga menghasilkan wilayah administratif dan menjadikan Sam Ratulangi menjadi gubernur Sulawesi.


Sam Ratulangi Menjadi Gubernur


Siapa Gubernur pertama Sulawesi? Yah jawabanya adalah Sam Ratulangi yang ditunjuk sebagai Gubernur Sulawesi, Setelah kemerdekaan dia kembali ke Makassar sana dia dihadapkan situasi yang cukup sulit karena kan Jepang ragu untuk menyerahkan senjata mereka. Disamping itu di bulan september 1945 pasukan sekutu yang dipimpin Brigadir Jenderal Australia Ivan Daugherty tiba di Makasar.


Baca Juga: Biografi Syafruddin Prawiranagara


Kedatangan pasukan Sekutu tersebut membawa unsur pemerintahan sipil Hindia Belanda seperti NICA dan KNIL yang siap merebut wilayah kota bekas jajahannya terbut. Dengan masuknya tentara sekutu ke Sulawesi, akhir rakyat di sana dengan Sam Ratulangi dan didukung oleh raja raja adat dari Kesultanan Bone, Kesultanan Luwu siap berperang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mendukung Republik Indonesia yang baru didirikan.


Mampu bernegosiasi dengan pihak terkait guna menjaga perdamaian tetapi hal itu hanya bertahan 2 bulan saja, dia membentuk pemerintahan daerah yang berjalan selama 9 bulan. Kemudian pada tanggal 5 April 1946 dia dan beberapa stafnya ditahan oleh Belanda mereka dipenjarakan dan diasingkan ke Pulau Serui di Papua Barat.


Kemudian tanggal 23 Maret 1948 Belanda membebaskan Sam Ratulangi dan rekan-rekannya setelah penandatanganan Perjanjian Renville mereka dipindahkan ke Surabaya yang dikawal the garis demarkasi yang terletak di Mojokerto dan Jombang lalu menuju ke ibu kota Republik di Yogyakarta.


Sesampainya di sana rombongan tersebut disambut baik oleh masyarakat dan terdapat acara penyambutan yang di gelar oleh Soekarno, kemudian dirinya dijadikan penasehat khusus pemerintahan Indonesia dan menjadi anggota Delegasi Indonesia dalam negosiasi di Belanda.


Jasa-jasa Sam Ratulangi


Tanggal 10 November 1948 sebuah investor diumumkan dari Radio Republik Indonesia bertujuan mengingatkan rakyat Indonesia Timur yang dikuasai Belanda untuk tetap bersatu dengan republik agar Indonesia dapat Merdeka sepenuhnya titik Manifesto tersebut adalah karya dari Sam Ratulangi.

Saat Agresi Militer Belanda kedua Yogyakarta dikuasai dan para pemimpin diasingkan ke Bangka. M Ratulangi ditangkap pada tanggal 25 Desember 1948 dan dibawa ke Jakarta tanggal 12 Januari 1949 baru kemudian diasingkan ke Bangka.


Makam Sam Ratulangi


Dikarenakan kesehatan yang menurun, saya izin kan tinggal di Jakarta sebagai tahanan rumah namun beliau meninggal pada tanggal 30 juni 1949 dan dimakamkan sementara di Tanah Abang titik kemudian tanggal 23 juli 1949 makamnya dibongkar dan dipindahkan ke kampung halamannya di Tondano melalui kapal yang sampai di Manado tanggal 1 Agustus 1949.


Sam Ratulangi secara Anumerta dianugerahi sebagai pahlawan nasional Indonesia oleh Soekarno pada bulan Agustus 1961 atas dasar Semua jasanya titik Selain itu diduga menerima bintang gerilya pada tahun 1958 putra Adi Perdana di tahun 1960.


Sam hanya dikenal di Minahasa, jalan-jalan utama kota Minahasa diberi nama Jalan Sam Ratulangi sebagai bentuk penghargaan dan mengabadikan namanya tersebut namanya juga dipakai sebagai nama universitas negeri di Manado dan bandara internasional matantu banyak terdapat patung-patung nya juga di jalan detik kemudian Bank Indonesia secara resmi mengeluarkan edaran uang kertas baru di tahun 2018 dengan gambar beliau di bagian depannya.


No comments for "Perjuangan Pahlawan Sam Ratulangi"