Biografi W.R Supratman : Singkat

W.R Supratman

Biografi W.R Supratman : Singkat
Wage Rudolf Soepratman


W.R. Supratman - Siapa yang enggak kenal beliau, kalo ada berarti pas pelajaran sejarah disekolahnya suka bolos kayaknya. sudah tidak asing lagi ditelinga, dia adalah seorang pencipta lagu kebangsaan berjudul Indonesia Raya, lagu itu pertama kali ditampilkan didepan umum pada saat Kongres Pemuda II.


Sebuah lagu yang diciptakanya berhasil mendongkrak semangat juang para pemuda yang hadir pada kongres tersebut, dia juga termasuk ke 13 tokoh Sumpah Pemuda yang mempelopori adanya sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. baca juga Biografi Tokoh Sumpah Pemuda lainya.


Biografi W.R. Supratman adalah pembahasan kita kali ini, yang mana sebelumnya kita telah mengulas Biografi Amir Syarifudin, dan untuk kalian yang ingin membacanya cukup klik link tadi.


Biografi W.R Supratman Singkat


Nama lengkap Supratman adalah Wage Rudolf Soepratman, lahir di Jatinegara, Batavia (Jakarta) tanggal 9 Maret 1903, dia adalah anak seorang tentara KNIL Belanda berpangkat Sersan bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, dan ibunya Siti Senen.


Beliai ini merupakan anak laki-laki satu-satunya dari 6 Bersaudara, memiliki 5 saudara perempuan. menurut ibunya nama Wage sendiri diambil dari nama hari Pasaran Wage didalam penanggalan orang Jawa.


Dimana kecilnya Soepratman ditinggal ibunya saat ia sedang semangat-semangatnya belajar di Boedi Oetomo. ibunya meninggal dunia disaat ia berusia 6 tahun. Kemudian ayahnya yang berpangkat sersan itu tidak mampu mengurus semua anaknya sendirian.


Disaat keadaan keluarganya yang terpuruk diguncang ujian ekonomi, beruntung lah kaknya yang bernama Roekiyem Soepratiyah dipinang oleh Willem Van Eldik, dan ikut bersama suaminya yang bertugas ke luar Jawa serta membawa Wage Supratman bersamanya.


Pendidikan W.R Supratman


Supratman ikut mengikuti kakanya Roekijem dan suami ke Makassar, disana ia dibiayai untuk bersekolah, dia belajar Bahasa Belanda selama 3 tahun setiap jam malam sekolah.


Lalu setelah lulus ia melanjutkan sekolahnya di Normaalschool di Makasar sampai lulus dan diusia ke 20 tahun dia diangkat menjadi guru disuatu sekolah, kemudian dia berhasil mendapatkan Ijazah Klein Ambtenaar, dan mengambil pekerjaan sampingan di sebuah perusahaan dagang.


Setelah cukup lama bekerja disana, Supratman memutuskan untuk pindah ke Bandung dan bekerja sebagai seorang Wartawan disana, kemudian dia pindah ke Jakarta dan tetap menjadi wartawan.


Sebagai seorang wartawan tentu dia sering terjun kelapangan dan menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat kecil pada zaman itu, seakan rasa patriotisme dan nasionalisme nya bangkit, dia mulai tertarik dengan pergerakan nasional dan menjalin hubungan dengan banyak tokoh pergerakan.


Semakin lama dia melihat penyiksaan dan penindasan terhadap rakyat kecil, semakin besar kebencian nya kepada Belanda, Wage Rudolf Soepratman menungkan emosinya didalam buku yang ia tulis berjudul Perawan Desa, sampai akhirnya buku itu di larang peredaranya dan disita oleh pemerintah Hindia Belanda.


Wafatnya W.R. Supratman


Semakin besar perjuangan Supratman maka semakin besar pula halangan dan rintangan, dia dikejar terus oleh polisi Belanda seperti lakyanya seorang Buronan. Kondisi ini memaksanya utuk terus berpindah-pindah untuk menghindari kejaran polisi.


Dia teringat ucapan bung Karno yang meminta nya untuk terus melakukan perjuangan demi kemerdekaan Indonesia sewaktu bertemu di Pengadilan Bandung.


Wage Rudolf Soepratman mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh saat dia sedang berada di Surabaya dalam pelarian nya tersebut, tetapi sakitnya itu bukan suatu hal yang dapat membendung perjuanganya.


Dengan keadaan lemas, Polisi Belanda dapat menangkapnya tepat di Jalan Embong Malang, saat dia sedang memimpin panduan Suara yang disiarkan NIROM (setelah merdeka berubah menjadi RRI). kemudian dia dipenjara di Kalisosok.


Didalam penjara ternyata kesehatan Supratman semakin menurun, dan makin memperhatinkan, akhinya dia dipulangkan namun karena sakitnya yang sudah sangat parah beliaupun meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 pukul 00.00 tepat pada haru Rabu Wage( Penanggalan Jawa).


Sebelum meninggal dia sempat berbicara dengan sahabatnya, ia mengaku senang bisa berjuang dan tidak pernah menyesali jalan yang ia pilih, beliau sangat yakin jika kelak Indonesia pasti akan Merdeka.


Tempat ia wafat di jalan. Mangga 21 Surabaya Kini dialih fungsi menjadi sebuah Museum W.R Soepratman dan terdapat duplikat biola legendaris milik almarhum.


Beliau awalnya dimakamkan di TPU Kapas, lalu dipindahkan ke Jalan Tambak Seragen Wetan (20 Mei 1953), kemudian dipindahkan lagi pada tanggal 25 Oktober 1953 ke Kenjeran. sayang sekali ia tidak dapat merasakan manisnya kemerdekaan Indonesia yang ia turut perjuangkan.


Mungkin Biodata W.R Supratman yang bisa kami sampaikan hanya sampai disini saja, memang cukup singkat tetapi jika ada informasi lebih lanjut pasti kami akan menambahkanya pada artikel ini